Cerita seks dewasa di perkosa aku malah menikmatinya

Cerita seks dewasa di perkosa aku malah menikmatinyaby superadminon.Cerita seks dewasa di perkosa aku malah menikmatinyaCerita seks dewasa di perkosa aku malah menikmatinya – Senin pagi itu, tak biasanya Marsha datang pagi-pagi sekali ke tokonya di jalan Pemuda, daerah selatan stasiun kereta api di kota Semarang. Saat itu ia mengenakan blouse hijau tanpa lengan yang sangat ketat di tubuhnya yang putih montok. Rambut ikalnya yang panjang bercat kemerahan diikatkannya ke atas, […]

Cerita seks dewasa di perkosa aku malah menikmatinya – Senin pagi itu, tak biasanya Marsha datang pagi-pagi sekali ke tokonya di jalan Pemuda, daerah selatan stasiun kereta api di kota Semarang. Saat itu ia mengenakan blouse hijau tanpa lengan yang sangat ketat di tubuhnya yang putih montok. Rambut ikalnya yang panjang bercat kemerahan diikatkannya ke atas, memperlihatkan tengkuknya yang putih seksi. Rupanya pagi itu, ia memang orang pertama yang datang ke tokonya. Pegawai-pegawainya biasanya baru datang pukul 8 pagi. Setelah membuka pintu toko mainannya, ia langsung menuju meja kasir dan menghitung laba perolehan hari sebelumnya, sambil menunggu para pegawainya datang 1 jam lagi.
Cerita seks dewasa di perkosa aku malah menikmatinya
Marsha adalah seorang wanita keturunan tionghoa, yang sudah cukup berumur. Akan tetapi, walaupun usianya sudah kepala 4, tetapi perawakannya masih mengundang air liur lelaki yang memandangnya. Tubuhnya yang montok selalu mengundang lirikan lelaki dan memancing fantasi liar untuk dapat menindihnya. Belum lagi bila memandang buah dadanya yang putih montok itu, setiap lelaki pasti ingin meremas gemas dam memelintir lembut putingnya. Di usianya itupun, wajahnya masih menunjukkan garis-garis kecantikan, serta sorot matanya yang sayu tetapi tajam, menandakan kebinalannya di atas tempat tidur.

Sebagaimana umumnya orang tionghoa, naluri bisnisnya memang cukup tajam. Baru beberapa bulan saja toko mainannya ini ia kelola, ia sudah mendapatkan cukup banyak pelanggan. Mungkin karena harga mainan anak-anak di tokonya ini relatif murah dibandingkan harga ditoko lainnya. Sambil menunggu pegawainya, Marsha duduk di belakang meja kasir, menghitung laba hari sebelumnya. Belum ada pelanggan yang datang, mungkin karena hari masih cukup pagi, dan di luar pun cuaca terlihat agak mendung.

“Wah, pagi-pagi begini sudah mendung, bisa susah rejeki nih!” pikirnya sambil melihat ke arah luar.”Mudah-mudahan aja, nggak hujan..”
Marsha kembali melanjutkan pekerjaannya, sampai tiba-tiba di luar gerimis pun turun.
“Lho, baru aja dibilangin, malah hujan beneran deh..” gerutunya.”Anak-anak bisa terlambat dateng nih!” ujarnya lagi sambil melirik arloji emas berbentuk kotak di lengan kanannya.

Gerimis itu lama-kelamaan menjadi hujan yang cukup deras, sehingga hawa pagi itu menjadi semakin dingin. Di luar pun, beberapa orang menghentikan sepeda motornya untuk mengenakan jas hujan, lalu kembali meneruskan perjalanannya. Kecuali beberapa pejalan kaki yang terus berjalan sambil berusaha menghindari hujan, ada juga dua orang pengendara motor yang memilih untuk berteduh sebentar di depan tokonya.

Salah seorang pengendara motor itu, kelihatannya seorang mahasiswa yang hendak pergi kuliah dan tidak membawa jas hujan. Pemuda itu memilih untuk berteduh di depan tokonya, sambil melihat-lihat dari luar ke dalam toko mainan Marsha. Tak lama kemudian, ia masuk ke toko itu, sambil terus melihat-lihat mainan yang ada. Melihat ada tamu yang masuk ke tokonya, Marsha langsung mempersilahkan pemuda itu dan menghentikan pekerjaannya menghitung laba.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Marsha.
“Oh, maaf kebetulan saya kehujanan dan berteduh di depan, saya baru ingat kalau saya memerlukan spare parts untuk mobil remote control saya dirumah” jawab pemuda itu.
“Wah, kalau spare parts remote control, kebetulan disini cukup lengkap, kalaupun di etalase kosong, mungkin bisa saya carikan di gudang”. Ujar Marsha.
”Memangnya bagian apa yang diperlukan?”
“Saya butuh dinamo dan ban untuk mobil remote control saya dirumah,” jawab pemuda itu.

Sambil menerangkan jenis yang dicarinya ia terus mengamati Marsha yang sedang mengecek buku inventarisnya. Ia baru saja menyadari, bahwa lawan bicaranya itu ternyata sangat menggoda dan membangkitkan gairahnya. Terutama di pagi hari yang sangat dingin itu. Melihat keadaan toko yang sepi itu, ia ingin mencoba mencari kesempatan di dalam kesempitan. Ia pun berusaha berkenalan dengan Marsha.

“Oya, kenalkan nama saya Agus,” pancing pemuda itu.
“Oh, saya Marsha,” balas Marsha.
“Saya mesti panggil Mbak atau tante nih?” tanya Agus lagi.
“Terserah deh! Enaknya Dik Agus aja gimana,” jawab Marsha.
”Wah, sepertinya dinamo yang untuk model itu disini sudah habis, saya memang nggak menyimpan stok banyak, karena kurang banyak peminatnya”.
“Yah, sayang sekali.. Apa di gudang juga sudah habis?” pancing Agus.
“Oh iya, saya hampir lupa, sebentar saya coba carikan,” lanjut Marsha sambil mengunci mesin kas-nya dan beranjak keluar meja kasir ke arah gudang di lantai dua toko itu.
”Dik Agus tunggu sini sebentar ya?”.

Saat melihat Marsha berdiri dan berjalan, gairah Agus semakin meluap. Terlebih lagi ketika ia mengamati Marsha menaiki tangga kayu itu, matanya semakin nakal melirik ke arah bongkahan pantat Marsha yang terbungkus rok jeans mini. Entah keberapa kalinya ia menelan ludah, sejak ia pertama kali melihat tante itu. Dan entah desakan dari mana yang membimbing Agus mengikuti Marsha, naik ke lantai dua. Ia kemudian memegang pegangan tangga, untuk mengikuti tante itu, sambil mendongak ke atas melihat Marsha yang masih menaiki tangga itu. Terlihat jelas oleh matanya, Marsha saat itu mengenakan celana dalam hitam berenda dan samar-samar memperlihatkan gundukan putih menggiurkan yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Pemandangan itu membuat nafasnya semakin naik turun.

Perlahan-lahan agar tak terdengar oleh tante itu ia mulai meniti anak tangga, hingga akhirnya ia sampai ke lantai dua yang merupakan gudang di toko itu. Ia menghampiri Marsha yang sedang berjongkok mengaduk-aduk sebuah kardus. Agus mengendap-endap ke belakang Marsha, kemudian berdiri tepat di belakang Marsha, menunggu tante itu berdiri.

Tak lama kemudian, kelihatannya Marsha sudah menemukan apa yang di carinya, setelah menaruh kembali kardus itu ke tempat semula, ia pun berdiri, dan langsung dikejutkan oleh kehadiran Agus di hadapannya.
“Lho..”

Belum sempat Marsha menyelesaikan kalimatnya, Agus langsung memeluk Marsha, sambil membungkam mulut tante itu dengan tangannya. Otomatis Marsha meronta dan berusaha berteriak, sambil memukuli punggung Agus. Akan tetapi, hal itu sia-sia belaka, tangan Agus yang lebih kuat semakin mendekap tubuhnya dan membungkam mulut Marsha. Hingga akhirnya Marsha sadar bahwa usaha apapun yang dilakukannya akan sia-sia. Tubuh montoknya pun menjadi lemas.

Melihat Marsha sudah menjadi lemas, Agus mengendurkan dekapan dan bungkaman pada bibir Marsha. Ia langsung menciumi bibir tante itu, dilumatnya habis wajah Marsha. Diciumi dan dijilatinya wajah cantik itu sambil nafasnya tersengal-sengal penuh nafsu.
“Aa.. Apa yang kau lakukan?? Kurang ajar kamu!” bisik Marsha terpatah-patah karena ketakutan.
“Tenang Tante.. Jangan takut, Tante nurut aja.. Lagi pula teriakan Tante nggak akan terdengar karena derasnya hujan,” jawab Agus sambil terus menciumi bibir Marsha dan tangannya sudah mulai menjamah bagian buah dada tante itu.
“Jjja.. Ngann.. Please.. Kenapa kamu nggak nyari perempuan yang lebih muda aja?” Pinta Marsha sambil berusaha menepis tangan Agus yang sudah mulai meremas lembut puting kirinya yang masih terbungkus bra dan blouse dari luar.
“Kalau kamu mau uang, ambil aja di kassa.. Tapi jangan seperti ini.. Please..”
“Aku mau Tante aja.. Sudah deh, Tante nurut aja.. Ntar pasti Tante nikmatin juga. Percaya deh!” bisik Agus di telinga Marsha, sambil kemudian dijilatinya telinga yang putih kemerahan itu.
“Mmmhh.. Tante begitu harum.. Kulit Tante mulus dan wangi..” sambung Agus sambil terus menggerayangi buah dada dan lengan Marsha. Marsha enggan mengakui kalau ia merasa tersanjung oleh kata-kata pemuda yang sedang mencoba memperkosanya itu, tetapi hati kecilnya tergoda juga oleh kata-kata pemuda itu.

Sambil mendorong tubuh Marsha agar rebah ke lantai, tangan Agus kini mulai berpindah ke daerah perut Marsha, yang kelihatannya sudah semakin tak berkutik. Direnggutnya blouse tante itu ke atas, dan terpampanglah perut yang putih mulus, walaupun agak sedikit gemuk, tetapi tak mengurangi keseksian tante itu. Ciuman-ciuman Agus kini mulai turun ke leher, buah dada yang masih terbungkus pakaian, dan akhirnya mulai menggerayangi perut dan pusar Marsha.

Rupanya ciuman Agus di bagian perut dan permainan lidah di pusarnya itu lama kelamaan menimbulkan kegelian yang amat sangat. Tak munafik, Marsha menikmati hal itu. Teriakannya berangsur-angsur berubah menjadi desahan. Tangannya yang berusaha mendorong tubuh Agus, sekarang sesekali meremas rambut Agus dan menekan kepala Agus semakin dalam dan merapat dengan tubuhnya. Saat ini yang ada hanyalah erangan-erangan kecil dari mulut Marsha yang sedang di permainkan oleh lidah nakal Agus.
“Ssshhtt.. Jjjangann.. Llleppasskanhh.. Aaauuhhff..” bisik Marsha kegelian.

Marsha pun akhirnya dilanda kebimbangan karena di satu sisi ia merasa harus mempertahankan dirinya agar tidak diperkosa oleh pemuda itu, di lain sisi ia mulai menikmati permainan yang sedikit kasar itu. Sementara itu, tanpa disadarinya tangan Agus sudah berhasil menyingsingkan rok mininya ke atas, dan tangan pemuda itu sudah mulai menggerayangi daerah kemaluan Marsha. “Nngghh..” tak sadar Marsha melenguh nikmat.

Tangan kekar itu tak henti-hentinya mengelus-elus bukit kenikmatannya dari luar celana dalamnya yang sudah mulai basah. Ciuman pemuda itu pun tak henti-hentinya menggerayangi bibir, leher dan buah dadanya yang montok dan masih terbungkus bra hitam berendanya itu. “Ahh.. Sshh..” lenguh Marsha.

Marsha semakin menikmati kenakalan pemuda itu. Saat ini ia justru mengharapkan agar pemuda itu semakin berbuat kurang ajar padanya. Matanya mulai terpejam seiring dengan semakin membanjirnya lendir kenikmatan di vaginanya. Pikirnya, pemuda itu memang tahu caranya memanjakan wanita. Marsha pun sudah tak merasa bahwa dirinya akan diperkosa. Ia justru mendambakan sentuhan pemuda itu.

Jemari Agus bermain di pinggiran celana dalam Marsha. Diusap-usapnya jahitan pinggir celana dalam hitam berenda yang semakin basah itu. Sesekali jemari nakalnya menyelip masuk ke dalam celana dalam itu sambil mengusap lembut gundukan yang ada di dalamnya. Usapan jemari Agus pada jahitan renda pinggiran celana dalam Marsha menimbulkan suatu sensasi dan rangsangan yang sangat dinikmatinya. Jahitan dari motif renda yang tak rata itu menyebabkan jemari Agus yang bermain diatasnya seakan-akan menggaruk-garuk daerah sekitar vaginanya. Terlebih saat Agus memang sengaja menggaruk bagian itu dengan kukunya. Hal ini membuat Marsha semakin tak kuasa untuk menahan lendir kenikmatannya yang semakin membanjiri daerah itu.

“Aughh.. Nakal kamu ya!” jerit Marsha saat merasakan jari telunjuk pemuda itu menyelip masuk dan mengusap lembut labio mayoranya. Sesaat telunjuk pemuda itu keluar dari dalam celana dalam Marsha, ia langsung menyodorkan jemari yang dibasahi oleh lumuran lendir kenikmatan Marsha itu ke bibir seksi tante itu. Dan langsung saja Marsha menyambut dan mengulum telunjuk yang penuh dilumuri oleh lendir kenikmatannya sendiri itu dengan penuh nafsu. Agus sendiri tak henti-hentinya menggerak-gerakkan telunjuknya yang sedang dikulum Marsha seakan-akan ingin mengorek-ngorek bagian dalam mulut wanita itru dengan lembut. Melihat tante itu menjilati telunjuknya dengan penuh nafsu, Agus langsung mendekati bibir wanita itu, berharap agar masih ada sisa lendir kenikmatan wanita itu dalam mulut seksinya. Marsha agaknya mengerti oleh apa yang diinginkan pemuda itu. Ia langsung mengumpulkan ludah dalam mulutnya yang memang masih bercampur dengan lendir kenikmatannya, kemudian disodorkannya ludahnya itu dengan bibir sedikit terbuka penuh gairah. Agus langsung melumat gemas bibir Marsha. Dikecap-kecapnya sebentar ludah tante itu dalam mulutnya, kemudian ditelannya penuh nafsu.

Melihat kelakuan pemuda itu, Marsha menjadi semakin terbakar oleh nafsu. Ia semakin lupa pada keadaan dirinya yang hendak diperkosa. Dan agaknya keadaan itu sekarang telah berubah menjadi keinginan untuk sama-sama saling memuaskan karena Marsha sudah mengabil posisi telentang dengan pahanya agak terbuka.

Marsha langsung menarik kepala pemuda itu, diciuminya bibir pemuda itu dengan penuh gairah. Kemudian dijambaknya rambut Agus sambil didorongnya kepala pemuda itu agar mulutnya mengarah ke vaginanya. Agus yang memang sudah terbakar oleh nafsu sejak pertemuan di meja kasir tadi, langsung saja menuruti keinginan Tante itu. Tanpa membuka celana dalam Marsha, ia langsung menjilati vagina Marsha dengan hanya cukup menarik pinggiran berenda celana dalam Tante itu di sekitar vaginanya. Dijilati dan digigitnya dengan penuh nafsu vagina itu sambil kepalanya terus dipegang dan dijambaki oleh Marsha.

Rupanya Marsha tak cukup hanya dipuaskan dengan jilatan-jilatan liar Agus, ia juga ingin mendusal-dusalkan wajah pemuda itu pada vaginanya. Hingga tak lama kemudian, Agus merasakan daerah sekitar selangkangan Tante itu bergetar, dan makin lama getaran itu makin hebat, hingga tak lama kemudian, saat ia sedang menggigit-gigit kecil klitoris Tante itu, diiringi teriakan liar Marsha.

“Ooghh iiyyaahh.. Terrusshh.. Mmmppffhh.. Ghhaahh..” Racau Marsha. Hingga tak lama kemudian, “Crroottss..”

Wajah Agus langsung tersembur oleh cairan yang hangat dan kental yang berasal dari dalam liang vagina Marsha. Rupanya Saat itu Marsha baru saja mengalami orgasme yang cukup banyak di awal permainan mereka. Dan langsung saja, tanpa diberi komando, dengan lahapnya Agus menjilati dan meraupi lelehan lendir kenikmatan yang tak henti-hentinya meleleh dari dalam vagina Tante itu. Hal ini tentunya membuat Marsha yang baru saja mencapai orgasme dilanda rasa geli yang amat sangat.

“Hhhaahh ssttoopp!! Sttoopp!! Ghiillaahh.. Ohh Sttoopp Sshh..” teriak Marsha sambil berusaha menjauhkan selangkangannya dari wajah pemuda itu. Tetapi Agus justru tak mau memindahkan mulut dan jilatannya sedikit pun dari vagina yang sedang dibanjiri cairan nikmat itu. Ia terus mengumpulkan lendir Marsha di dalam mulutnya dan kemudian langsung menelannya dengan rakus. Mulut dan wajah pemuda itu belepotan oleh lendir Marsha.

Setelah Agus merasa bahwa vagina Marsha telah bersih kembali, ia langsung beranjak ke arah bibir Marsha, dengan masih mengulum lendir dari vagina Tante itu ia menyuapkannya ke bibir seksi di hadapannya. Marsha langsung mengerti apa yang akan dilakukan Agus. Ia langsung membuka bibir seksinya seraya berkata,
“Ludahkan! Ludahkan padaku Sayang!”. Pintanya dengan tatapan sayu menggairahkan sambil meremas-remas lembut payudaranya sendiri.
“Ooohh.. Ssshh..”
“Cuhh..” Agus langsung meludahkannya ke dalam mulut Tante itu. Dan langsung disambut dengan desahan bergairah Marsha.
“Mmmhh.. Nikmatthh,” bisik Marsha setelah menelan lendir kenikmatannya sendiri dengan rakus.

Agus yang semakin terbakar gairahnya melihat adegan itu langsung melucuti pakaiannya sendiri. Sejak melihat tubuh molek Tante itu ia memang tak sabar untuk memasukkan penisnya ke dalam vagina sang Tante dan menggarapnya penuh nafsu. Setelah dirinya telanjang bulat, ia berdiri sejenak dihadapan sang Tante sambil mengacung-acungkan penisnya yang sejak tadi telah menegang penuh dihadapan Marsha.

“Woow..” kagum Marsha sambil mengarahkan tangannya untuk menggenggam penis itu.
“Aaahh.. Tanteehh..” bisik Agus saat jemari Tante itu menggenggam dan meremas lembut penisnya.

Marsha langsung mengocok penis digenggaman tangan kanannya itu dengan penuh kelembutan. Sementara itu tangan kirinya mengusap-usap vaginanya sendiri yang mulai basah kembali. Rupanya ia pun tak sabar ingin digarap oleh pemuda itu. Dipindahkannya tangan kirinya yang sudah dibasahi lendir kenikmatannya ke penis Agus, dan dibalurinya penis yang menegang keras itu dengan lendirnya.

“Aaahh.. Angett Tantee..” Bisik Agus sambil memejamkan matanya.
“Hhhmm?? Anget? Aku punya yang lebih panas Sayang!” Tantang Marsha sambil mengarahkan bibir seksinya ke penis pemuda itu. Dan langsung dikulumnya penis dihadapannya dengan penuh nafsu.
“Ngghh.. Mmmhh..” Desahnya.
“Ooohh.. Iyaahh terusshh Tanteehh.. Ssshh..” Agus pun semakin meracau tak karuan.

Marsha menemukan kenikmatan yang lebih memacunya untuk terus mengerjai penis pemuda itu karena ia mencium dan merasakan aroma dan basah dari lendir kenikmatan yang berasal dari vaginanya sendiri. Dan itu membuatnya semakin liar menjilati benda yang panjang dan panas itu.
“Mmmhh.. Ssshh..” Bisik Agus tak henti-hentinya sambil mengacak-acak rambut Tante itu, sehingga rambut merah ikal Marsha yang semula diikat ke atas menjadi acak-acakan dan terlihat sangat menggairahkan.

Marsha berhenti sejenak dari kegiatannya mengelomoti penis pemuda itu, sambil teros berjongkok dihadapan Agus, ia menengadah menatap wajah pemuda itu dengan tatapan sayu penuh gairah. Melihat wajah Tante-Tante yang sedang terbakar oleh gairah seperti itu membuat Agus semakin tak sabar untuk segera menggarap Tante itu. Diacak-acaknya rambut Marsha dengan gemas.
“Kau ingin lebih panas Sayang? Hhmm?” Tantang Marsha dengan tatapan penuh nafsu..
“Siksa aku Tante! Siksa aku dengan tubuhmu!” Pinta Agus sambil terus mengacak-acak rambut Marsha.
“As you wish honey!” jawab Marsha sambil melucuti kancing blousenya dan rok spannya sendiri.

Marsha yang saat ini tinggal mengenakan bra dan celana dalam hitam berendanya kembali mengerjai penis Agus. Dikulum-kulum dan dijilatinya batang kemaluan pemuda itu hingga penis itu basah dilumuri oleh ludahnya sendiri. Marsha semakin menggila dan liar. Sampai-sampai bola matanya nyaris berputar kebelakang saat ia mengelomoti batang yang menegang dan panas itu. Sesekali digigitinya urat-urat kemaluan Agus yang menonjol-menonjol akibat tegangnya penis itu hingga pemuda itu meringis kesakitan.

Agus yang semakin tak sabar dan terbakar oleh gairah langsung saja menarik tubuh Tante itu agar berdiri dihadapannya, dan langsung saja Marsha menyerang bibir pemuda itu dengan penuh nafsu. Digigitinya pula bibir dan lidah Agus. Ia memang benar-benar sudah terbakar oleh nafsu.

“Tante, aku sudah nggak tahan nih!” pinta Agus sambil membalas kecupan-kecupan liar Tante itu.
“Aku juga Sayang! Cepat kerjai vaginaku Gus!” balas Marsha dengan tatapan sayu memelas penuh nafsu.”Sebentar kubuka BH dan celana dalemku dulu ya Honey!? Sabar Sayang!”.
“Nggak usah Tante! Aku suka ngeliat Tante Cuma pake pakaian dalem gitu,” pinta Agus, “Tenang aja, tetep nikmat kok!” sambungnya menenangkan Marsha sambil meremas-remas lembut gumpalan daging putih yang masih terbungkus bra hitam renda itu.

Agus langsung mendorong tubuh montok Tante itu agar membelakangi tubuhnya, kemudian diaturnya agar tubuh Marsha menungging. Marsha langsung menyadari, rupanya pasangannya ini ingin mengerjainya dalam posisi doggie style terlebih dahulu. Ia langsung mengambil ancang-ancang doggie style, bongkahan pantatnya yang montok mulus itu menghadap Agus, siap untuk dikerjai. Dengan paha yang lebarkan Marsha terlihat sangat menggairahkan saat itu. Dan hal ini semakin membuat Agus terangsang dan tak sabar. Pemuda itu langsung mengarahkan penisnya yang sudah benar-benar panjang dan tegang tepat ke arah vagina Tante itu. Tetapi saat ia melihat bongkahan pantat putih mulus dan montok yang masih terbungkus celana dalam hitam itu timbul keinginannya untuk menjilati liang anus Tante itu. Dan langsung saja ia menunduk ke arah pantat Marsha yang sedang menungging dan tak mengetahui bahwa Agus akan mengerjai anusnya terlebih dahulu, kemudian ditariknya celana dalam Marsha yang menutupi bagian vagina dan anusnya ke sebelah kanan tanpa membuka celana dalam itu, hingga tiba-tiba.. “Aaahh..”

Marsha merasakan sesuatu yang hangat dan basah mengusap liang anusnya dan Tante itu langsung saja merasakan geli yang amat sangat. “Kau apakan tadi To?”

Desah Marsha sambil menengok kebelakang, dan ia langsung mendapati pemuda itu sedang menjilati dan menciumi pantat dan anusnya dengan begitu rakus.Marsha benar-benar semakin menikmati permainan liar ini. Digeleng-gelengkannya kepalanya kesana kemari sampai rambutnya semakin acak-acakan. Dan pemandangan itu benar-benar sangat merangsang. Entah untuk keberapa kalinya kedua bola matanya itu nyaris berputar ke belakang saat tubuhnya mendongak ke atas mengimbangi kenikmatan yang ia dapatkan dari Agus.

Sementara itu Agus semakin giat saja mengerjai anus Tante itu. Entah keberapa kalinya ia membuat Marsha berteriak dan meringis kesakitan saat ia menggigit gemas bongkahan pantat Tante itu. Lidah pemuda itu menyapu-nyapu dari atas ke bawah, dari anus Marsha turun ke liang vagina Tante itu. Hal ini tentu saja semakin membuat Marsha menggelinjang kenikmatan. Tangan Marsha yang kanan berpegangan ke rak mainan disampingnya sementara tangan kirinya sibuk meremasi sendiri buah dadanya yang masih terbungkus bra hitam itu. Dipuntir-puntirnya sendiri putingnya yang masih ada dalam bungkus renda itu. Gesekan yang ditimbulkan oleh renda dan jemari tangannya pada putingnya benar-benar menambah rangsangan pada dirinya. Marsha semakin menggila, ia ingin dijadikan budak seks oleh Agus.

Cerita Dewasa Bergambar – Aku Menikmati Saat Diperkosa

“Ooocchh.. Yaahh.. Ssshhtt..” racau Marsha,
“Terus ssaayyaang.. kkeerrjaaii akkuuhh.. oohh”
Tak henti-hentinya ia meremas payudara dan menjambaki rambutnya sendiri.
“Oh Tante.. Pantatmu begitu mulus.. Liang vaginamu begitu harum Tante..” racau Agus sambil terus menjilati anus dan vagina Marsha, mengeluar masukkan lidahnya ke dalam liang vagina dan anus Marsha bergantian.

Tiba-tiba Marsha merasa ada sesuatu yang akan meledak lagi dari dalam selangkangannya. Tubuhnya tergetar hebat. Agus pun merasakan vagina dan daerah selangkangan Tante itu mengejang dan bergetar hebat. Dan ia langsung menyadari bahwa Tante itu akan segera mendapatkan orgasme lagi, sehingga pemuda itu semakin mempercepat rangsangannya pada daerah selangkangan Tante itu, sampai tiba-tiba saat Agus menusukkan lidahnya pada vagina Marsha dalam-dalam, Tante itu tersentak sambil berteriak..

“Ooocchh.. Aaacchh.. Ggghhaahh.. Sshhiitt!!” racau Marsha dengan liarnya, dan.. crootss.. Untuk kedua kalinya wajah Agus tersembur oleh cairan kenikmatan yang muncrat dari dalam vagina Marsha.
“Ahh Ghiillaa..” teriak Marsha sambil tubuhnya mengejang dan kedua tangannya berpegangan pada rak dan lantai, kakinya direnggangkan penuh seakan-akan ia ingin memeras lebih banyak cairan yang keluar dari dalam rahimnya itu.

Beberapa menit kemudian tubuh montoknya langsung terkulai lemas berpegangan rak mainan di gudang itu dan mungkin karena tak kuat menahan sisa-sisa orgasmenya ia langsung terjatuh ke lantai karena seluruh persendiannya seakan-akan lepas dan sangat lemas.

Agus pun menghentikan kegiatannya untuk memberikan kesempatan istirahat pada Marsha. Tetapi ia tak menghentikan ciuman-ciuman dan jilatan pada daerah sekitar selangkangan Tante itu karena ia ingin membersihkan dan mereguk lagi lendir kenikmatan yang terus menetes dari dalam vagina Marsha.

“Aaacchh.. shhtt.. gelii Sayang.. ohhff.. Hentikann!!” desah Marsha saat Agus menjilat-jilati sekitar vaginanya yang masih terasa sangat peka.
“Mmmffhh.. Ohh yaahh.. Banjir Sayang?” bisik Marsha sambi melirik pada Agus yang terus mengerjai vaginanya yang masih berdenyut-denyut itu.
“Hmm.. Tante mau? Wangi banget Sayang!” jawab Agus sambil nafasnya tersengal-sengal penus nafsu.
“Mmmhh sini Sayang!” pinta Marsha sambil menarik rambut Agus agar mendekati menaiki tubuhnya.

Rupanya ia ingin menikmati lendir kenikmatannya lagi dari mulut pemuda itu. Agus langsung menuruti permintaan Marsha, lagi pula ia semakin tak sabar ingin menaiki tubuh montok dihadapannya itu. Perlahan-lahan ia menindih tubuh Marsha yang masih mengenakan pakaian dalamnya. Gesekan yang ditimbulkan oleh pakaian dalam Marsha yang berenda dengan tubuh Agus menimbulkan suatu sensasi yang merangsang gairah Agus.

“Kemari Sayang, naiki tubuhku! Merapatlah padaku Gus! Hsshh..” pinta Marsha sambil menarik dan memeluk rapat tubuh Agus. Mulut Agus yang masih mengulum cairan kenikmatan dari vagina Marsha langsung diarahkannya ke bibir Marsha yang sedang membuka seksi.
“Mmmhh..” desah Tante itu saat bibir Agus memagut bibirnya sambil meludahkan lendir kenikmatan dari vagina Marsha.
“Mmmhh Tante..” bisik Agus sambil mempererat dekapannya pada tubuh montok Marsha yang terasa makin panas dihari yang dingin itu, hal itu pun makin menimbulkan rangsangan pada tubuh Agus sehingga penisnya pun semakin menegang minta dipuaskan.
“Hmm.. Ada yang tegang tuh di bawah!” bisik Marsha seusai menelan habis cairan kenikmatan yang disodorkan Agus.
“Sudah siap Sayang?” tantang Agus sambil menciumi telinga dan leher Tante itu.
“Nnngghh.. Give me that Honey! Please..” pinta Marsha.

Langsung saja Agus bangun dari tubuh Marsha, kemudian dipelorotkannya celana dalam hitam Tante itu, lalu diaturnya posisi kaki Marsha agar mengangkang lebar. Terlihatlah dihadapannya vagina Marsha yang merekah. Walaupun sudah berumur, tetapi vagina Tante itu masih terlihat memerah segar, kontras dengan kulit Marsha yang putih. Bulu-bulu disekitar vagina Marsha terpotong rapi, menandakan bahwa Tante ini memang cukup memperhatikan organ kewanitaannya tersebut. Pemandangan itu semakin membuat Agus tak henti-hentinya menelan ludah. Dikocok-kocoknya penisnya sebentar, kemudian diarahkannya langsung ke vagina Marsha, digesek-gesekkannya di bagian labio mayora Marsha. Rupanya ia ingin menggoda Tante itu sebentar.

“Cepat Gus! Masukkan penismu! Aku nggak sabar Sayang! Please..” racau Marsha sambil meremasi buah dadanya yang masih terbungkus BH hitam berenda itu.
“Hmm.. Nggak sabar ya Tante? Tadi katanya nggak mau?” goda Agus sambil terus menggesekkan penisnya naik turun pada vagina Marsha.
“Ooohh Shit! Persetan dengan tadi! Pokoknya aku mau penismu didalam vaginaku sekarang! Ayo dong Sayang!?”
Rupanya Marsha sudah semakin tak sabar dan mempersetankan segalanya.
“Mmmhh.. Oohh.. “

Agus rupanya memang sengaja ingin mengalihkan perhatian Tante itu. Ia ingin mempermainkan Marsha, dan membuat Tante itu terlena dengan sumpah serapahnya, sampai tiba-tiba, saat Marsha tak menyadarinya….Bless…..

Melesaklah penis Agus yang besar, panjang dan panas berdenyut-denyut itu perlahan-lahan ke dalam vagina Marsha. Kejutan ini benar-benar mengagetkan Marsha. Kedua matanya melotot nyaris keluar. Entah karena kenikmatan yang dirasakannya atau karena rasa kagetnya, tetapi yang pasti ia sangat menikmatinya.
“Ooohh.. Gila kamu! Kenapa nggak bilang-bilang? Aaahh.. Ssshhtt.. Gillaahh.. Mmmhh..” racau Marsha.

Kali ini ia benar-benar merasakan kehebatan penis Agus. Denyutan penis Agus dalam vaginanya itu seakan-akan memompa lendir kenikmatannya semakin banyak keluar dari dalam vaginanya. Agus rupanya sengaja membiarkan pinggulnya tak bergoyang dahulu. Ia ingin menikmati saat-saat pertama kalinya penisnya itu berada dalam relung vagina Tante itu.

Penis itu terus berdenyut-denyut keras di dalam vagina Tante itu. Begitupun dengan vagina Marsha yang terus berkontraksi memijat-mijat benda asing yang sedang berada dalam relung kewanitaannya itu. Kedua mata mereka terpejam erat menikmati sensasi yang mereka rasakan. Sambil menikmati denyut demi denyut dari dalam vagina Marsha, Agus meremas-remas bongkahan pantat Tante itu penuh nafsu, tingkahnya mirip seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan. Kenakalan Agus itu tentunya semakin membuat Marsha menggelinjang tak karuan. Denyutan vaginanya pun makin menggila, sehingga otomatis penis Agus semakin merasakan kenikmatan.

Keduanya saling berciuman. Berpagutan dengan liarnya tiada henti. Marsha menggigiti lidah dan bibir Agus sambil terus menekan dan membuat jepitan dalam vaginanya. Tante itu rupanya sudah berubah menjadi liar dan buas. Sesekali Marsha meludahkan air liurnya ke dalam mulut Agus yang sedang tergagap-gagap kenikmatan. Dikumur-kumurnya liur Tante itu oleh Agus sebelum ditelannya.

Perlahan-lahan Agus mencabut penisnya dari dalam vagina Marsha. Ia tak ingin melakukannya tergesa-gesa. Gesekan penisnya yang dilakukan perlahan namun pasti itu benar-benar menimbulkan sensasi yang menggilakan. Marsha semakin terpejam dan bibirnya yang dibalut lipstik merah menyala itu semakin terbuka seksi.

“Ooohh.. Mmmhh..” desah Tante itu mengiringi gesekan penis pemuda itu dalam vaginanya.
“Tann.. Tttee.. Aahh.. Ssshh.. Nikkmaatthh.. ” balas Agus.
“Iyyaahh.. Terushh Guss.. ” bisik Marsha.

Dicabutnya perlahan penis itu oleh Agus hingga keluar dari dalam vagina Marsha. Hal ini menimbulkan kekecewaan yang besar dalam hati Marsha. Ia masih menginginkan penis itu berada dalam relung kewanitaannya, mengobok-obok vaginanya penuh nafsu, ia ingin menduduki penis itu hingga melesak jauh ke dalam vaginanya, ia ingin dijadikan budak nafsu pemuda yang baru saja dikenalnya itu, ia semakin mempersetankan semuanya. Sementara itu dengan senyum penuh menggoda, Agus hanya memandangi wajah kecewa Marsha sambil mengocok-ngocok penisnya yang basah dibaluri lendir kenikmatan dari dalam vagina Marsha.

“Please.. Guss.. Kerjai aku lagi Sayang! Perkosa aku sekarang juga!” racau Marsha makin tak karuan.

Kali ini jemari lentiknya menggantikan penis Agus bermain di sekitar kemaluannya. Digosok-gosoknya vaginanya yang semakin terasa gatal itu. Marsha benar-benar menginginkan penis Agus. Sambil mengelus-elus dan mengeluar masukkan jari tangan kanannya ke dalam vaginanya, ia terus menggelinjang dan merintih. Sementara itu tangan kirinya tak henti-hentinya meremas-remas payudaranya sendiri.

“Please.. Guss.. Garap akuuhh.. Perkosa akuuhh.. Hamili aku! Perlakukan aku sesukamu Sayang! ” racau Marsha makin menggila.

Agus terus menggoda Tante itu, sambil mengocokkan penisnya di hadapan Marsha. Hal ini tentunya makin membakar gairah Marsha. Dirinya semakin mendesis-desis dan menggeliat tak karuan.

Tak kuat melihat pemandangan menggiurkan di hadapannya, Agus langsung mendekati Marsha, memeluk tubuh montok Tante itu dan menindihnya penuh nafsu. Bibir seksi Marsha langsung menyambut pagutan panas pemuda itu. Dihisapnya lidah nakal Agus yang langsung menjilati seluruh permukaan bibirnya. Marsha begitu menikmati sensasi permainan ini. Ia semakin melupakan kejadian pemerkosaan tadi dan justru semakin dibuat menggila oleh pemuda itu. Tak terhitung lagi berapa kali lendir pelumas keluar dari dalam vaginanya yang semakin terasa panas bila bergesekan dengan paha atau penis Agus. Rupanya Agus pun menyadari hal ini. Ia telah berhasil membakar gairah Tante itu sepanas-panasnya. Dan ia pun semakin tak sabar untuk mendorong masuk lagi penisnya ke dalam vagina Tante itu.

“Aku nggak kuat lagi Sayang! Kumasukkan sekarang ya!?” pinta Agus sambil menciumi wajah Marsha, sementara tangan kanannya mengocok penisnya yang telah menegang penuh tepat diantara selangkangan Marsha yang mengangkang lebar.
“Gila kau Sayang! Kenapa nggak dari tadi? Aku juga sudah nggak kuat! Cepat masukkan Guss! Ssshh..” racau Marsha sambil mengangkat pinggulnya mengarahkan vaginanya yang merah basah, kontras dengan kulit putih mulusnya mendekati penis Agus yang menegang dipenuhi urat-urat. Dan tak lama kemudian.. Blesshh.. Melesaklah penis itu ke dalam vagina Marsha perlahan-lahan.

“Ssshh.. Ooohh.. Teruusshh Sayang.. Mmmhh” bisik Marsha sambil mulutnya menganga lebar dan matanya terbelalak, pertanda ia amat menikmati penetrasi itu.
“Tantee.. Nnngghh..” desah Agus menyertai gerakan pinggulnya mendorong masuk penisnya perlahan-lahan ke dalam vagina Marsha. Ia amat menikmati setiap inci rongga vagina Marsha yang dilewati penisnya. Vagina itu begitu kenyal, panas, basah dan terasa berkedut-kedut seakan-akan sedang memijat penisnya yang sedang berada di dalamnya.

Saat penisnya sudah berada penuh didalam vagina Tante itu, tanpa membuat gerakan apapun, keduanya menikmati sensasi demi sensasi yang mereka rasakan. Tanpa langsung mengocokkan penisnya, Agus menciumi seluruh bagian tubuh Marsha yang berada dalam jangkauannya bibir dan lidahnya. Dipilinnya puting Tante itu dengan menggunakan giginya. Diseruputnya berulang-ulang puting itu penuh nafsu. Sesekali ia menyupang buah dada Tante itu, sehingga disana-sini meninggalkan garis merah yang kontras dengan warna putih kulit payudara Marsha.

Keduanya semakin terbakar gairah, hingga di satu saat, keduanya tak kuat lagi menahan nafsu yang tertahan, tanpa dikomando oleh salah satu dari mereka, baik Agus maupun Marsha membuat gerakan yang mengejutkan dengan sama-sama mengangkat pinggul mereka sejauh mungkin tetapi tanpa melepaskan ujung penis Agus, kemudian secara berbarengan keduannya saling menghujamkan pinggul dan selangkangan mereka.

“Aaahh yyhhaahh.. Ssshh..” teriak Marsha saat penis Agus melesak masuk dengan cepat ke dalam vaginanya dan mentok menabrak dinding rahimnya.
“Ggghhaahh.. Oooffhh.. Mmmhh..” racau Agus tak kuat menahan suaranya sendiri.

Kemudian keduanya langsung saling berlomba mengayunkan pinggul mereka. Agus yang sudah menahan nafsu sejak tadi langsung memompa vagina Marsha secepat mungkin. Begitupun dengan Marsha, ia mengangkangkan selebar mungkin pahanya yang putih mulus dan mengimbangi gerakan pinggul Agus dengan sedapat mungkin menyambut penis pemuda itu dengan vaginanya bila ia merasakan pinggul Agus bergerak ke arahnya.

Keduanya langsung saja saling berlomba untuk memberikan yang terbaik buat pasangannya dan saling mengejar meraih kenikmatan. Ruangan itu pun langsung dipenuhi suara erangan kenikmatan keduanya diiringi decak becek dari vagina Marsha dan sayup-sayup terdengar suara hujan yang makin lama makin deras sehingga semakin menimbulkan hawa dingin yang justru makin membuat keduanya terbakar nafsu.

Marsha begitu menikmati permainan pinggul Agus. Jujur saja dalam hatinya ia mengakui bahwa permainan pemuda itu begitu hebat sampai-sampai terkadang ia tak sempat mengambil nafas. Agus mengayunkan pinggul begitu cepatnya seakan-akan ia sedang diburu-buru oleh suatu hal sehingga ia ingin cepat-cepat mengakhiri permainan ini. Erangan Marsha yang terbata-bata akibat serangan goyangan pinggul Agus yang begitu cepatnya justru semakin membakar Nafsu Agus. Ia begitu menikmati saat memandangi wanita yang sedang disetubuhinya itu mengerang tak jelas dan kadang-kadang meneriakkan umpatan kasar dan jorok yang secara tak sadar keluar dari mulut seksi Marsha yang sedang diperbudak oleh gairah.

“Ooohh.. Masukkan penismu lebih dalam Sayang! Puaskan dirimu! Perkosa aku! Hamili Aku! Aaahh.. Aahh.. Yyyiiaahh.. Mmmhh.. Ooohh.. Ttterrusshh.. Yyyaahh.. Therusshh.. Nnngghh.. SSsshshh..” racau Marsha sambil kedua tangannya mempermainkan dan meremas payudaranya sendiri.
“Ooohh.. Tante.. Mmmhh.. Tannttee.. Nikmat banget Sayang! vaginamu nikmat banget Tante!!” racau Agus terbata-bata.
“Ttterruusshh.. Yyyiiaahh.. Mmmhh.. Perkosa aku! Aku pelacurmu Guss.. Puaskan dirimu! Ayoohh..”
Marsha semakin menggelinjang tak karuan dan semakin menggila oleh nafsu.
“Ayoo Sayang.. Hamili aku! Perkosa aku! Aku budakmu Sayang! Teruss.. Ohh.. Ooohh.. Ghhaahh..”

Mereka bermain dengan posisi Marsha mengangkang lebar-lebar dengan kakinya bertumpu pada rak mainan di kanan kirinya sambil kedua tangannya terus bergerilya ditubuh Agus atau tubuhnya sendiri meremas-remas buah dadanya dan menjambaki rambutnya sendiri. Sedangkan Agus terus bertahan diatas tubuh Tante itu dengan lutut yang bertumpu ke lantai dan mulutnya yang terus mengecupi seluruh bagian tubuh Marsha yang bisa dijangkaunya. Pinggulnya terus memompa vagina Marsha dengan tempo cepat sehingga keduanya benar-benar bermandikan keringat. Sesekali Agus menjilati tubuh Tante itu yang basah oleh keringat. Dijilatinya dengan keringat yang bercampur dengan aroma parfum dari tubuh Tante itu. Mereka bertahan dengan posisi itu selama beberapa menit sampai akhirnya Agus merasa pegal di kedua lututnya karena terus menumpu bobot badannya. Tak lama kemudian Agus mengajak Marsha untuk berganti posisi yang langsung disetujui oleh Tante itu.

Kali ini Marshalah yang menentukan posisi permainan mereka. Ia langsung mendorong tubuh Agus agar berbaring dilantai yang dingin itu, kemudian Tante itu langsung menggenggam erat penis Agus, dikocok-kocoknya sebentar, kemudian dijilatinya penis yang basal dilumuri oleh lendir dari vaginanya sendiri. Marsha begitu menikmatinya. Dijilatinya hingga tak ada lagi sisa lendir dari vaginanya yang menempel di penis Agus. Pemuda itu makin terangsang oleh permainan Marsha. Ia benar-benar menikmati pemandangan Marsha yang sedang menjilati lendir dari vaginanya sendiri tanpa rasa jijik.

Sepertinya Tante itu benar-benar haus akan kenikmatan. Tak ada bagian dari batang kemaluan pemuda itu yang luput dari garapannya. Sampai-sampai terkadang pinggul Agus dibuatnya mengangkat bila lidahnya bermain menjilati bola kembar milik Agus dan menjilati lubang anus Agus. Setelah penis Agus bersih dari lendir kenikmatannya, Marsha langsung berdiri, memutar, mengambil posisi berlawanan dengan Agus, kemudian ia berjongkok dengan posisi pantat dan vaginanya tepat dihadapan wajah pemuda itu.

“Jilati Sayang! Puaskan rasa hausmu! Ssshh..” pinta Marsha penuh nafsu.
“Mmmhh.. Harum banget Tante! Sssllrrpp..” bisik Agus sambil memulai permainannya menjilati vagina dan anus Marsha yang berjonkok tepat diatas wajahnya.
“Aaahh.. Ssshh.. Nikmatt Guussss!! Terrusshh.. Iyyaahh.. Mmmppffhh..” racau Marsha.

Jemari Agus ikut memainkan vagina Marsha, sehingga sesekali Marsha menjerit kecil bila ia merasakan 1, 2 atau 3 jari Agus masuk ke dalam vaginanya.
“Aawww.. Nakal kamu Gus!” Jerit Marsha saat ia merasakan Agus menggigit klotorisnya.

Dan.. Seerr.. Langsung saja vaginanya bergetar hebat dan Marsha pun mendapatkan orgasme entah keberapa kalinya, Tante itu pun semakin merem melek dibuai permainan Agus. Agus yang menyadari bahwa Marsha baru saja mendapatkan orgasmenya langsung mencaplok vagina dihadapannya, dijilati dan dihisapnya kuat-kuat berharap agar ia pun mendapat jatah lendir kenikmatan yang keluar membanjiri vagina Tante itu.

“Aaahh.. Ggghaahh.. Gellii Sayang! Ampun! Ooowww.. Mmmhh..” racau Marsha, karena ia merasakan kegelian dan kenikmatan yang amat sangat saat Agus menghisap-hisap dan menjilati vaginanya yang baru saja merasakan orgasme itu.

Vaginanya semakin berkedut-kedut tak karuan. Marsha memejamkan matanya erat-erat menikmati perasaan yang membuatnya melayang itu. Ditengah-tengah buaian orgasmenya, antara sadar dan tak sadar ia merasa ingin kencing dan tak kuat untuk menahannya. Perasaan kebelet kencing itu benar-benar mendadak dan tak tertahankan, sampai-sampai..

“Sebentar Sayang! Ahh Stopp!” pinta Marsha sambil mengengkat pinggulnya menjauhi wajah Agus yang sedang didudukinya itu.
“Kenapa Tante?” Tanya Agus keheranan.
“Aku..”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba.. Serr.. Keluarlah air kencing Marsha dari dalam vaginanya langsung menyembur wajah Agus hingga pemuda basah kuyup.
“Ahh.. Maaf!” ujar Marsha benar-benar merasa tak enak.
“Wow.. Mmmhh..”

Rupanya kejadian itu justru membuat Agus kegirangan dan langsung saja mencaplok vagina Marsha yang masih mengangkangi wajahnya dan sedikit-demi sedikit masih meneteskan air kencingnya. Diraup dan diteguknya cairan yang masih menetes itu langsung dari sumbernya.

“Hei! Itu jorok kan!? Mmmhh.. Aaahh..” desis Marsha sambil menahan geli karena tak henti-hentinya mulut Agus menyedot-nyedot vaginanya.
“Jorok? Nikmat banget Sayang! Tante mau?” ujar Agus sambil berusaha bangun setelah mengecup kecil klitoris Marsha, langsng mendekati wajah tente keheranan Tante itu.
“Hmm.. Kayaknya nikmat juga deh! Sini Sayang!” pinta Marsha sambil menarik wajah Agus dan langsng menjilati seluruh bagian wajah itu. Bahkan ia sempat mencaplok dan menyedot sisa-sisa air kencingnya yang dikulumkan oleh Agus untuknya.
“Hhh.. Nikmat Sayang! Aku benar-benar dibuat gila olehmu Sayang!” racau Marsha sambil terus menjilati sisa-sisa air kencingnya sendiri yang membasahi dada dan leher Agus. Dalam hatinya ia mengakui kelihaian pemuda itu dalam membuai nafsunya. Belum pernah ia diperlakukan seperti ini oleh siapapun, terlebih suaminya yang seringkali tak pernah membuatnya puas seperti saat ini.

Setelah puas menjilati wajah, leher dan dada Agus yang berlepotan dengan air sisa-sisa air kencingnya sendiri itu, Marsha langsung bangkit berdiri, kemudian mengambil posisi mengangkangi penis Agus yang masih menegang dengan gagahnya. Agus yang terlentang di lantai memandangi tubuh montok Marsha yang membelakanginya dan saat ini tengah mengarahkan selangkangannya tepat diatas penisnya. Dipandunya pinggul Tante itu dengan memegangi bongkahan pinggul Marsha agar segera melesakkan vaginanya dihadapan penis Agus. Pemandangan dihadapan pemuda itu begitu menggiurkan. Bongkahan pantat yang putih mulus, selangkangan yang sedang mengangkang lebar dan perlahan-lahan turun mendekati penisnya, dan lubang anus yang kemmerahan, kontras dentgan kulit putih mulus Marsha.

Tak henti-hentinya Agus menelan ludahnya sendiri. Ia benar-benar tak sabar untuk menyatukan raga bagian bawah mereka lagi. Dan tanpa diduga, ternyata Marsha memang sengaja mempermainkan Agus. Ia tak langsung membiarkan penis dibawahnya itu melesak masuk ke dalam relung vaginanya. Diputar-putarnya pinggul montoknya tepat di atas penis Agus, hingga terkadang vagina atau lubang anusnya bergesekan dengan kepala zakar milik Agus, yang semakin membuat Agus melenguh dan menggelinjang tak karuan.

“Ayo Tante! Jangan nakal gitu dong!” bisik Agus tak sabar.
“Biar tahu rasa kau! Ya gitu itu nggak enaknya kalau digodain ! Biar sekalian kamu tahu kalau aku juga bisa nakal Sayang! Kerling Marsha.
“Wah, Tante nakal banget sih! Sini kupukul pantat montoknya!” ujar Agus sambil kemudian menampar gemas bongkahan bokong Marsha. Plak’..
“Aawww.. Ssshh..” teriak Marsha kaget.
“Ok deh kalau sudah nggak sabar gitu!”.
“Cepetan Tante! Aku sudah mulai gila nih!” rujuk Agus sambil mengelus-elus bongkahan kanan pantat putih yang sekarang memerah akibat tamparan gemasnya tadi.
“Hhh.. Biar tahu rasa kamu Sayang!” ujar Marsha sambil menggeraikan rambut ikalnya kekiri, kemudian dengan tangan kanannya masih berpegangan pada rak, tangan kirinya menggenggam penis Agus yang semakin menegang dan dipehuhi urat-urat itu kemudian membimbingnya melesak perlahan-lahan masuk ke dalam belahan vaginanya.Blleesshh..
“Ooohh.. Ssshh..” desah Marsha penuh kenikmatan.
“Mmmhh.. Terush Tante.. Nikmat dan hangat!” bisik Agus sambil meregangkan kakinya lebar-lebar dan semakin menyorongkan pinggulnya mendekati selangkangan Marsha.

Marsha terus menekan selangkangannya menerima hujaman penis Agus dari bawah. Badannya membelakangi tubuh Agus. Kepalanya menunduk menahan rasa nikmat yang menggelora dibagian selangkangannya. Kali ini kedua tangannya berpegangan pada rak disampingnya. Tubuhnya berjongkok sambil sedikit memutar pinggulnya berharap agar setiap sisi relung vaginanya dapat tersentuh oleh denyut penis pemuda itu. Bola matanya nyaris berputar ke belakang dan tak henti-hentinya ia menggigit bibirnya sendiri sambil mengeluarkan suara desah kenikmatan.

Setelah Marsha merasakan kepala zakar Agus sudah membentur mentok dalam vaginanya, masih dalam posisi berjongkok ia terdiam, menikmati sensasi yang dirasakannya jauh dalam liang kewanitaannya itu. Denyut demi denyut yang dirasakannya dari penis Agus benar-benar membuat dirinya semakin terbuai akan kenikmatan itu sampai-sampai ia bisa saja nyaris tertidur dalam kenikmatan. Hingga tiba-tiba Agus menepuk bongkahan kanan pantat, dan meminta Marsha agar mengangkat pantatnya.

“Naikkan sedikit pantatnya Tante!” pinta pemuda itu sambil mendorong pantat Marsha.
Gerakan itu otomatis membuat penis Agus yang sedang tertancap jauh dalam vagina Marsha menjadi sedikit tercabut sampai bagian kepala penis Agus. Sehingga menimbulkan gesekan yang membuat keduanya melenguh kenikmatan.
“Mmmhh.. Nikmat Sayang!” bisik Marsha sambil merasa tak rela karena kenikmatannya terganggu. Tetapi ia langsung mengerti bahwa pemuda itu pasti hendak berbuat sesuatu yang lebih liar pada dirinya.
“Ssshh.. Sabar! Sebentar Sayang!” bisik Agus menenangkan Marsha.

Setelah Agus merasakan posisinya pas ia melepaskan pegangannya pada bokong Tante itu, kemudian kedua lengannya bertumpu pada lantai, dan dengan kaki yang sedikit dibuka ia mengayunkan pinggulnya ke atas.Blesshh……penisnya langsung menyeruak masuk ke dalam vagina Marsha yang terpampang tepat diatasnya. Tepat setelah penis yang menegang penuh dan dipenuhi urat menonjol itu menghentak mentok bagian dalam vaginanya, Agus langsung mencabutnya sedikit, kemudian mulai mengocoknya dengan tempo yang cepat dan konstan. Keduanya langsung merasakan kehangatan dibagian selangkangan mereka. Marsha mendesis seperti orang yang sedang kepedasan. Kepalanya membanting-banting liar menggeraikan rambut ikal kemerahannya. Ia terlihat semakin binal dan liar.

“Yiiaahh.. Ssshh.. Terush Sayang! Terus!” teriak Marsha saat menerima kocokan penis Agus dalam vaginanya. Sementara tubuhnya tergoncang-goncang naik turun dengan tangannya tetap berpegangan erat pada rak mainan.
“Ohh.. Nikmat Tante! vaginamu nikmat! Terus Tante! Puaskan dirimu! Ssshh..” desis Agus sambil terus mengocok vagina Marsha dan mengimbangi gerakan naik turun Tante itu.
“Terus Guss! Hamili aku! Perkosa aku! Jadikan aku pelacurmu Sayang! Yaahh.. Yiiaahh.. Nngghh.. Ohff..” teriakan Marsha makin tak beraturan. Ia semakin mempersetankan semuanya.
“Tante! Tante! Terus Tante! Nikmat banget Tante!” racau Agus.

Mereka terus bertahan dalam posisi itu sampai kira-kira 10 menit, kemudian Agus meminta Marsha menungging sambil tetap membelakangi dirinya. Marsha mengerti keinginan pasangannya itu. Ia pun amat menikmati bersenggama dengan posisi doggie style. Ia langsung menungging membelakangi Agus, dibukanya lebar-lebar kedua kakinya, kemudian ia menoleh ke belakang menatap Agus sambil menyibakkan rambutnya. Pemandangan itu terlihat seksi sekali bagi Agus.

Dihadapannya kali ini terpampang seorang Tante-Tante yang terbakar gairahnya, sedang membuka lebar-lebar pahanya, vaginanya yang baru saja dikocoknya itu terlihat merah merekah dan sedikit membengkak. Lubang anus Marsha terlihat juga ikut berkedut-kedut, mungkin akibat kocokan penisnya pada vagina Tante itu. vagina Marsha terlihat mengeluarkan lendir putih yang menggiurkan, pertanda Tante itu sudah benar-benar terangsang dan ingin segera dipuaskan. Mata Marsha yang sayu menandakan ia ingin segera digarap dan dipuaskan. Agus yang juga ikut bangkit dari posisinya semula, memegangi pinggul Tante itu dari belakang. Ia bahkan sempat menjilati vagina Marsha yang dilumuri lendir putih. Ditelannya cairan kenikmatan itu dengan panuh nafsu.
“Aawww..” teriak Marsha saat pemuda itu melumat vaginanya dan menyedotnya penuh nafsu.

Setelah Agus puas dan merasa vagina Marsha sudah bersih dari lendir pelumasnya, ia langsung bangkit dan mendekatkan penisnya pada pada vagina Marsha. Dibimbingnya penis yang menegang penuh itu agar sedikit melesak masuk dibelahan vagina Tante itu. Marsha semakin tak sabar untuk segera menerima kocokan penis Agus di dalam vaginanya yang terasa semakin berdenyut tak karuan itu. Ia mendorong-dorongkan pinggulnya kebelakang, berharap agar penis Agus segera menyeruak ke dalam vaginanya.

Agus yang juga sudah tak sabar untuk memasukkan penisnya lagi ke dalam vagina Marsha langsung mendorongkan pinggulnya ke depan, dan….Blleesshh…..
“Mmhh.. Nikk.. Mmatthh..” bisik Marsha lirih.
“Ohh Tante!” Agus pun tak mampu berkata apa-apa.
“Nngghh.. Nikmat banget Sayang! Aku suka!” bisik Marsha sambil menundukkan kepalanya hingga rambutnya jatuh terurai ke lantai.

Agus kembali mengayunkan pinggulnya perlahan. penisnya keluar masuk vagina Tante itu perlahan-lahan, dan menyebabkan vagina Marsha yang terasa masih seret itu sesekali ikut tersedot keluar, kemudian saat Agus mendorong penisnya masuk, vagina itu melesak masuk ke dalam. Benar-benar pemandangan yang menggiurkan.

Mereka bermain dalam tempo yang lambat. Marsha pun tak henti-hentinya meracau dan terkadang mulutnya yang seksi itu mengeluarkan sumpah serapah dan kata-kata kotor lainnya.

“Terus Guss! Hamili aku gigoloku! Oohh.. Nnngghh.. Gila penismu nikmat banget Sayang!” racau Marsha.
“Yiiaahh Tante! vaginamu benar-benar gila! penisku bisa-bisa nggak mau lepas nih! Ohh.. Ssshhtt” teriak Agus sambil sesekali menampari bokong Tante itu dengan gemasnya. Plak, plak..
“Puaskan dirimu Guss! Aku pelacurmu! Keluarkan spermamu dalam vaginaku Sayang! Ooohhff.. Nngghh..” Marsha semakin menggila.

Lama-kelamaan ayunan pinggul mereka semakin cepat, seakan-akan ada sesuatu yang dikejar. Teriakan dan desis keduanya berubah menjadi lenguhan. Keringat mereka bercucuran disana sini. Terkadang Agus pun menjilati punggung Marsha yang dibanjiri keringat itu. Pegangan Agus pun berpindah dari pinggul Marsha ke pundak Marsha. Tangan kanannya memegang erat pundak Tante itu, sementara tangan kirinya menjambak rambut ikal Marsha. Ia terlihat memperlakukan Tante itu dengan liarnya. Pinggulnya mengayun dengan cepat. Suara liar mereka berpadu dengan decak becek yang timbul dari kocokan penis Agus pada vagina Marsha. Bola mata Marsha nyaris berputar kebelakang saking nikmatnya. Rasanya belum pernah ia diperlakukan sebegini liarnya oleh siapapun. Ia pun benar-benar dilupakan akan statusnya sebagai ibu dari anak-anaknya dan istri dari suaminya. Ia bahkan mempersetankan suaminya. Ia ingin terus diperlakukan seperti ini oleh pemuda yang baru saja dikenalnya ini. Ia tak ingin kembali ke pelukan suaminya yang lebih sering membuat vaginanya terasa geli daripada nikmat. Marsha benar-benar semakin mempersetankan segalanya.

Tiba-tiba ia merasakan vaginanya berdenyut tak karuan, selangkangannya pun bergetar gila-gilaan. Ia sadar bahwa dirinya akan merasakan orgasme atau bahkan multi orgasme. Sesuatu yang teramat jarang dirasakannya bila sedang bersama suaminya. Sebenarnya ia tak ingin mendapatkan orgasmenya cepat-cepat, tetapi hati kecilnya menginginkan sesuatu yang teramat jarang didapatkannya itu. Teriakannya pun semakin liar. Goyangan pinggulnya semakin tak karuan. Dan ia pun menyadari bahwa ayunan pinggul Agus semakin menggila dan lebih cepat dari sebelumnya. Membuatnya tak sempat untuk meminta pemuda itu agar memperlambat ayunannya, bahkan untuk menarik nafas pun terasa sulit.

“Tan.. Tee aku mau keluar nih!” teriak Agus.
“Oh, yah.. Terus Sayang! Keluarkan didalam saja! Hamili aku! Beri aku anakmu Sayang! Teruusshh..!”

Marsha pun semakin tak dapat menahan orgasmenya sampai tiba-tiba.. vaginanya berdenyut hebat dan selangkangannya terasa bergetar gila-gilaan lagi, ia pun sadar bahwa ia tak akan mampu menahannya. Marsha pun pasrah menerima kocokan demi kocokan penis pemuda itu dalam vaginanya. Begitupun halnya dengan Agus yang juga sudah mendekati puncaknya, ia mempercepat ayunan pinggulnya mendorong keluar masuk penisnya dalam vagina Marsha, sampai tiba-tiba.. Pinggulnya menegang, seakan-akan memompa sesuatu yang akan meledak dari dalam selangkangannya. Ia bahkan sempat melihat Marsha menghempaskan rambutnya kesamping. Pemandangan itu benar-benar seksi.

Dan…..Croott….Meledaklah larva panas dari dalam saluran sperma Agus. Memuntahkan bermili-mili liter air mani yang panas ke dalam vagina Marsha.
“Nnngghh.. Oohhff.. Tann.. Tee.. Hhh..” lenguh Agus sambil menghujamkan penisnya dalam-dalam ke dalam vagina Marsha.

Marsha yang merasakan semburan lahar panas dalam vaginanya semakin tak dapat menahan orgasmenya. Selangkangannya yang sejak tadi bergetar hebat dan vaginanya yang berdenyut gila-gilaan mencapai suatu titik yang membuatnya tak dapat menahan suaranya sendiri.
“Aaahh.. Ggghhaahh..” teriak Tante itu sambil menekankan dalam-dalam vaginanya dengan penis Agus. Ia pun mungkin tak sadar bahwa teriakannya memenuhi ruangan gudang itu.
“Ohh terus Tante! Terus Sayang!” teriak Agus yang menyadari Marsha baru saja mencapai orgasmenya. Ia terus menekan dan menempelkan erat-erat penisnya agar semakin melesak masuk ke dalam vagina Marsha.

Keduanya merasakan denyut yang gila-gilaan pada raga bagian bawah mereka. Mereka benar-benar menikmati sensasi yang baru saja mereka rasakan. penis Agus terus berdenyut-denyut memompa sisa-sisa air maninya ke dalam vagina Marsha. Begitu pun vagina Marsha, terus bergetar dan berdenyut tak karuan. Mereka bertahan dalam posisi doggie style seperti itu sambil terus menikmati sisa-sisa orgasme yang seakan-akan tak akan hilang dari raga bagian bawah mereka.

Marsha merasa lemas pada bagian lututnya. Ia tak sadar bahwa ia telah bertumpu pada posisi seperti ini dalam waktu yang cukup lama. Selain itu, ia baru saja mendapat orgasme yang sanggup melemaskan seluruh persendiannya.

“Lepas dulu Sayang! Lututku pegel nih! Pelan-pelan tapi ya! Aku sebenernya nggak ingin lepas,” pinta Marsha pada Agus yang masih menancapkan kejantanannya pada lubang vagina Marsha.
“OK Tante!” bisik Agus sambil mencabut penisnya yang sudah mulai melemas tetapi tetap terlihat besar itu.
“Ssshhtt.. Ooohh..” desis Marsha saat Agus mencabut penis yang menancap dalam vaginanya. Ada perasaan geli yang bercampur nikmat saat perlahan-lahan penis pemuda itu tercabut dari vaginanya.

Marsha berguling ke lantai, bersandar pada tumpukan kardus, dengan posisi mengangkang sambil tangan kanannya mengelus-elus vaginanya yang masih berdenyut-denyut dan tangan kirinya meremasi buah dadanya. Tangan kanannya merasa ada sesuatu yang keluar dari dalam vaginanya. Diraupnya lendir kenikmatannya sendiri yang bercampur dengan air mani Agus, kemudian dijilatinya dengan penuh nafsu. Matanya terbuka sayu dan rambutnya terurai acak-acakan. Pemandangan yang benar-benar membuat jantung Agus berdegub tak karuan.

Agus pun tak ingin ketinggalan bagian nikmat ini. Didekatinya vagina Marsha. Dijilatinya vagina yang masih basah itu dengan penuh nafsu. Dikulum dan disedotnya berkali-kali gundukan daging yang membengkak merah dan mengeluarkan lendir putih dihadapannya itu. Diperlakukan seperti ini Marsha pun menggelinjang tak karuan. Dijambakinya rambut pemuda itu. Ditekannya wajah Agus pada vaginanya. Perasaan campuran antara geli dan nikmat itu semakin menggila. Merasa perlakuannya mendapat sambutan, Agus pun semakin mempergencar lumatan demi lumatannya pada vagina Marsha..

“Gila kau Sayang! Masa masih kurang? Ooohh.. Terusshh! Mmmhh..” desah Marsha sambil menggelinjang tak karuan.
“Nggak mau nih Tante? Beneran?” Goda Agus disela-sela jilatannya pada vagina Marsha.
“Ooohhff.. Terush Sayang! Jangan berhenti! Nnngghh.. Nikk.. Mmaatthh..” desah Marsha.

Agus terus menjilati vagina Tante itu. Lidahnya yang kasar dikeluar masukkannya dalam vagina Marsha membuat Tante itu semakin diperbudak oleh rasa nikmat. Tempo permainan lidah Agus dalam relung kewanitaan Marsha berubah-ubah. Sesekali lidah kasar itu menyapu lembut vagina Marsha hanya pada bagian luarnya saja, dengan jemari Agus menguakkan labium mayora Marsha. Terkadang lidah itu menegang dan menyeruak masuk ke dalam vagina Marsha, membuat Tante itu melonjak kenikmatan.

Marsha merasa beruntung, belum pernah ia merasakan kenikmatan seperti ini. Terlebih berbuat liar seperti yang tengah ia lakukan dengan pemuda yang baru dikenalnya dan semula hendak memperkosa dirinya. Tante itu meremas-remas payudaranya sendiri dengan liar. Dipilin-pilinnya puting miliknya dengan penuh nafsu. Mulutnya pun tak henti-hentinya mengeluarkan erangan dan desahan penuh kenikmatan. Ia benar-benar diperbudak dan dipermainkan kenikmatan. Hingga suatu saat, ia merasa pinggul dan selangkangannya bergetar hebat lagi sedang vaginanya berdenyut-denyut lebih tak karuan dibanding orgasmenya tadi, ia langsung menjambak rambut Agus dan menekan kepala Agus semakin merapat dengan selangkangan dan vaginanya. Agus yang juga menyadari hal itu semakin buas dalam menjilati liang vagina dan menghisap-hisap labium mayora Tante itu.

Ia sadar bahwa Marsha akan mendapatkan orgasmenya lagi. Marsha sendiri merasa sangat keheranan saat ia merasakan sensasi itu lagi. Pikirnya mustahil ia mendapatkan orgasme yang hebat lagi, terlebih setelah orgasme trakhirnya yang langsung meloloskan seluruh persendiannya. Tetapi ia pun sangat menikmatinya. Digoyang-goyangkan pinggulnya mengimbangi irama permainan lidah dan mulut Agus. Semakin didekapnya kepala dan wajah pemuda diantara selangkangannya, sampai tiba saatnya ia tak dapat menahannya lagi, dan.. Crroottss.. Seerr..

“Ssstt.. Ssstt.. Aaahh.. Ggghhaahh..” teriak Marsha tak kuasa menahan suaranya yang memenuhi gudang itu.

Keduanya langsung terkejut karena ternyata dari dalam liang vagina Marsha yang sedang dijilat dan dihisap oleh Agus tersemburlah bermili liter lendir kenikmatan berwarna putih kental yang menyembur keluar berbarengan dengan air kencing. Rupanya Tante itu mendapat multi orgasme yang hebat sampai-sampai ia tak dapat menahan kencingnya sendiri yang langsung menyembur wajah Agus yang sedang berada tepat dihadapannya.

Agus yang menyadari hal itu langsung saja tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dijilatinya sekitar selangkangan Marsha yang dibanjiri oleh lendir kenikmatan dan air kencing Tante itu. Ditelannya semua yang berhasil ia jilat dan kulum dalam mulutnya. Hal ini tentunya membuat Marsha yang sedang mengalami masa relaksasi meringis-meringis kegelian dan men desah- desah tak karuan menahan rasa geli yang melanda seluruh bagian selangkangannya. Tetapi tubuh montoknya benar-benar lemas hingga ia nyaris tak sanggup mendorong dan menyingkirkan kepala Agus yang berada siantara selangkangannya dan sedang sibuk menjilati vaginanya dengan rakus.

Agus pun bangun dan mendekati Marsha yang sedang terpejam menikmati sisa-sisa orgasmenya. Didekatkannya mulutnya yang sedang mengulum lendir kenikmatan dan air kencing Marsha ke mulut Tante itu, kemudian dikecupnya bibir Marsha yang sedang menganga seksi. “Nngghh..” Lenguh Marsha.

Agus langsung menyodorkan kulumannya untuk dibagi dengan Tante itu, yang langsung saja disambut penuh nafsu oleh Marsha. Dilumatnya mulut Agus yang dipenuhi dengan lendir kenikmatan dan air kencingnya sendiri, kemudian ditelannya hingga tak bersisa. Marsha benar-benar puas dengan permainan mereka, begitu pun halnya dengan Agus. Ia langsung mendekap tubuh montok Tante itu, kemudian bibir mereka saling berpagutan penuh nafsu. Sesekali bibir Agus menjalar ke leher dan buah dada Tante itu.

“Aduuhh.. Masa sih masih kurang Sayang?” bisik Marsha keheranan saat melihat Agus yang menjilati putingnya dengan penuh nafsu.
“Kalau sama Tante, aku nggak akan pernah puas. Tapi untuk kali ini, kurasa cukup dulu. Asal kapan-kapan boleh begini lagi ya?” pinta Agus.
“Gila kamu Sayang! Masa sih aku bisa nolak diajak nikmat begini?” jawab Marsha sambil mengecup lembut bibir Agus. Dalam hatinya ia berbunga-bunga karena akan selalu mendapatkan kenikmatan seperti ini kapan pun ia mau.

Author: 

Related Posts